Berani Sukses = Berani Gagal


Cobalah anda mengajukan pertanyaan kepada sekelompok orang siapa diantara mereka yang ingin sukses. Maka dijamin 100% mereka akan mengacungkan tangan. Tetapi, cobalah pertanyaan tersebut Anda ganti dengan siapa yang ingin gagal, maka pastilah tidak ada orang yang mengangkat tangan.

Itulah realitas dalam kehidupan kita sehari-hari, bahwa semua orang ingin sukses, apapun profesinya. Jika ia seorang pekerja, ia ingin sukses menjadi pekerja yang kariernya cemerlang dengan gaji yang tinggi, posisi yang bergengsi dan fasilitas yang lengkap. Bila ia seorang wirausahawan, ia ingin usahanya sukses menghasilkan keuntungan yang berlipat dari tahun ke tahun.

Kesuksesan bagi semua orang ada impian indah yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya, bahkan kalau mungkin, semua orang ingin menghindari kegagalan. Kegagalan adalah hantu yang menakutkan bagi sebagian besar orang.

Kegagalan Jembatan Keberhasilan

Barangkali kita semua masih ingat di masa kecil kita, bahwa kita pernah jatuh dari sepeda ketika belajar menggendarai sepeda. Tetapi jatuh itu tidak membuat kita jera, kita mencoba dan mencoba lagi, sampai akhirnya kita bisa.

Ketika kita belum dapat bersepeda, pastilah perasaan kita sama bahwa bersepeda itu sesuatu yang sangat sulit. Kita harus menjaga keseimbangan badan, kita harus tetap menatap kedepan, kita harus tetap mengayuh dan kita harus memengangi stang kendali sepeda agar tidak berbelok dan menabrak. Pokoknya yang terbayang serba sulit.

Tetapi kini, ternyata kita bisa melakukannya sambil bernyanyi-nyanyi dan menoleh ke kanan kiri. Bersepeda bagi kita sudah begitu biasa dan terlalu mudah.

Sesungguhnya kita bisa bersepeda karena kita pernah jatuh. Kita pernah gagal. Dan belajar dari kegagalan itu. Seperti kata guru-guru kita, kegagalan adalah jembatan keberhasilan.

Padahal kalau kita kapok atau trauma belajar sepeda karena pernah jatuh, pasti sampai sekarang kita tidak pernah bisa naik sepeda.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering merasa takut "jatuh". Ketika akan memulai usaha kita takut gagal dan bangkrut. Ketika akan melamar pekerjaan  kita khawatir akan ditolak, ketika akan menyampaikan usulan ke atasan takut tidak akan diterima, dan lain sebagainya. Inilah penyakit yang harus kita berantas.

Bila kita membaca catatan hidup orang-orang yang sukses, ternyata mereka semua pernah menemui kegagalan.

Albert Einstein; seorang fisikawan besar abad 20, pernah mengatakan. "Saya berhasil sekali dan gagal 99 kali." Artinya, bagi Albert Einstein untuk menghasilkan satu karya yang dikagumi semua orang sampai akhir zaman, dia sebenarnya telah melakukan 99 kali kegagalan.

Kolonel Sanders sang pemilik resep ayam KFC yang cukup terkenal itu telah ditolak oleh 1009 rumah makan sebelum akhirnya ia berjumpa dengan rumah makan yang mau menerima resepnya. Andai saja Kolonel Sanders saat itu berhenti menawarkan resepnya pada rumah makan yang ke 1009 karena merasa lelah dan putus asa ditolak terus, maka pastilah kita tidak akan pernah merasakan nikmaynya fried chicken KFC.

Pemenang Versus Pecundang

Ada beberapa sikap orang menghadapi kegagalan. Sebagian merasa takut dengan kegagalan. Karena pernah gagal, mereka menjadi jera untuk mencoba melakukannya lagi. Inilah kelompok orang yang akan menjadi pecundang.
Di sisi lain, ada sekelompok orang yang melihat kegagalan sebagai sesuatu yang wajar dan sangat lumrah terjadi dalam kehidupan. Mereka menjadikan kegagalan sebagai guru. Menganalisis penyebab kegagalan, lalu mencobanya lagi. Kelompok ini jumlahnya tidak banyak dalam masyarakat kita, dan kelompok inilah yang akan menjadi orang-orang yang sukses dan memenangkan persaingan dalam kehidupan.
Thomas Alfa Edisson, sang penemu bola lampu listrik, adalah salah satu contoh seorang yang termasuk kelompok pemenang. Sebelum berhasil, Thomas Alfa Edisson telah melakukan percobaan sebanyak 999 kali dengan hasil kegagalan. Ketika seseorang bertanya kepadanya," Apakah Anda mau gagal sampai keseribu kali?" ia menjawab, "Aku tidak gagal. Aku baru menemukan cara lain." Thomas Alfa Edisson berhasil menemukan tindakan yang baru karena ia telah melakukan beberapa tindakan lain sebelumnya.

Menutup tulisan ini barangkali perlu kita membaca riwayat hidup seorang pria berikut ini. Pada umur 31 tahun, ia gagal dalam berusaha. Umur 32 tahun, ia dikalahkan dalam pencalonan legislatif. Di usia 34 tahun, ia gagal lagi dalam pencalonan yang sama. Umur 35 tahun, ia kehilangan kekasihnya karena meninggal dunia. Umur 38 tahun, ia kalah dalam pemilihan umum. umur 43 tahun,  ia kalah dalam pemilihan anggota kongres. Umur 46 tahun, kalah lagi dalam pemilihan anggota konggres berikutnya. Umur 48 tahun, lagi-lagi kalah dalam pemilihan anggota konggres. Masuk usia 55 tahun, kalah dalam pencalonan senator. Umur 56 tahun, gagal menjadi wakil presiden. Umur 58 tahun, kalah lagi dalam pencalonan senator. Baru pada usia 60 tahun, ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat.

Tahukah Anda siapakah pria itu? Dialah Abraham Loncoln, salah seorang presiden besar yang pernah dimiliki bangsa Amerika Serikat.

Ternyata, orang sukses dalam kehidupan mereka bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Orang yang sukses adalah orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kegagalan mereka, kemudian bangkit dan mencoba lagi. Mereka tidak pernah putus asa terhadap kegagalan yang menimpa mereka. Mereka terus berusaha dan berusaha.

Jadi mengapa kita harus takut gagal? Takut gagal hanya akan menjadikan kita semakin jauh dari keberhasilan. Percayalah kalau kita berani gagal itu artinya kita juga berani sukses.
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar