Lei Jufang, Jutawan yang Spiritual

I am a born idealist. Medical culture is a magical world that can benefit others -Lei Jufang-
Lei selalu terlihat dengan rambut dikepang yang sudah beruban dan tanpa make up, menggunakan kaos polos berwarna hitam ia terlihat seperti wanita paruh baya yang hendak berbelanja sayuran di pasar. Kenyataannya ia bukanlah seorang ibu rumah tangga biasa. Bilyuner yang berhasil secara mandiri merupakan pendiri Tibet Cheezeng Tibetan Medicine, yang menghasilkan salep, plester, dan bedak untuk mengobati rasa pegal dan masalah pernafasan. Produk yang dihasilkan oleh perusahaannya dapat dilihat hampir di seluruh toko obat dan apotik di Cina, dan digunakan oleh orang biasa hingga atlit olimpiade.

Lei mengenyam pendidikan di Joatung University di Xian, propinsi Shaanxi, pada umur 19 tahun. Ia lulus dan bekerja di akademi sains di Lanzhou, ibukota Gansu. Sebagai asisten profesor ia berhasil memanfaatkan mesin vakum untuk mengawetkan banyak material. Ia menjadi terkenal dan memiliki banyak uang serta mendapat promosi di organisasi tempat ia bekerja. Satu hal yang menjadi pertanyaan besar di kepalanya adalah: Apa makna dari semua kerja keras yang telah dilaksanakan bila banyak hasil penelitian hanya diam di laboratorium saja.




Akan tetapi, dibawah program pemerintah Cina yang memberikan kesepatan kepada para peneliti untuk mengkomersilkan hasil penelitian mereka, Lei membuat sebuah institusi pengontrol polusi di Lanzhou pada tahun 1987, yang ternyata berkembang menjadi sebuah perusahaan yang menghasilkan jutaan Yuan per tahun. Ketika perusahaan tersebut mulai menghasilkan untung yang luar biasa, Lei dipaksa untuk berhenti bekerja dari pekerjaannya dikarenakan perbedaan pendapat dengan rekan kerjanya di manajemen.

Kemunduran tersebut membuatnya depresi dan akhirnya Lei berhenti bekerja. Ia merasa selalu ada dilemma didalam kehidupan yang dijalaninya. Kegagalan menjalani bisnis juga membuatnya tidak mengerti mengenai makna sebenarnya dari kehidupan. Ia mulai bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan dasar seperti  Apakah kebenaran dalam hidup? .


Pertanyaan tersebut mendorongnya untuk menemukan kedamaian jiwa di Tibet, sebuah tempat yang selalu ingin didatanginya. Disana ia menemukan kekuatan agama dan mulai mempelajari secara dalam mengenai agama Budha di Tibet.




Lei setelah itu beberapa kali kembali ke Tibet. Belajar dari perjalanan bisnis pertamanya, ia berpikir, ide bisnis yang baik adalah untuk membuat barang yang dibutuhkan oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain.  Orang akan membeli obat yang baik untuk diri mereka sendiri, bukan untuk orang lain,  ucap Lei. Ia juga mengingat ketika mengunjungi sebuah kuil Budha di Tibet, ia melihat gambar di dinding dengan gambar struktur badan manusia. Struktur tersebut sam persis dengan yang ada di sekolah kedokteran, akan tetapi kuil tersebut sudah berusia 200 tahun.

Hal tersebut membuatnya sadar bahwa jika obat-obatan Tibet dikombinasikan dengan teknologi modern tentu akan memiliki potensi pasar yang besar. Pelajaran yang diabilnya dari semua perjalanan yang sudah dilaluainya membuatnya yakin bahwa ia akan berkecimpung di dunia obat-obatan, ketika iya menyadari langkah selanjutnya setelah gagal pada percobaannya yang pertama. Ia mengembangkan plester pereda rasa sakit menggunakan obat tradisional Tibet dan dengan latar belakangnya dalam memanfaatkan mesin vakum membuatnya menciptakan sebuah alat pengemas buatannya sendiri daripada harus membeli dengan harga ribuan Yuan dari luar negeri.


Permasalahan kedua yang dihadapinya adalah cara untuk mempromosikan produk barunya. Lei mengadopsi pendekatan melalui masyarakat biasa, pendekatan dari mulut ke mulut dan mengirimkan stafnya untuk memberikan obat secara gratis ke teman dan keluarga, yang kebanyakan atlit. Ia mengatakan bahwa mereka memberikan obat secara gratis senilai ribuan Yuan, sebuah angka yang cukup besar untuk sebuah perusahaan yang baru berdiri.




Kerugain besar tersebut terbayar dalam waktu yang cukup singkat. Produknya terbukti efektif untuk meningkatkan sirkulasi darah dan meredakan sakit otot setelah dicoba pada tim basket Bayi Rockets, yang berlatih di Lanzhou pada tahun tersebut. Pujian dari atlit olimpiade yang menggunakan obat-obatan dari perusahaannya untuk mengobati cidera juga membuatnya semakin dikenal. Media pun berdatangan dan Lei serta perusahaannya menjadi sorotan.

Saat ini, ia mempekerjakan lebih dari 1000 orang, dan 98 persen merupakan warga local Tibet. Ia berkata terkadang ia merasa ragu mengenai kepercayaan Budha yang dijalaninya jika melihat tujuannya yang mencari keuntungan.


Jawaban yang diterimanya adalah Selama Anda memiliki motivasi yang baik dan Anda mempergunakan uang yang Anda miliki untuk jalan yang baik maka tidak menjadi masalah,  Lei pun menginvestasikan sebagian besar uang yang dimilikinya pada institusi pendidikan lokal di Tibet, dengan tujuan untuk memotivasi anak-anak muda Tibet menjadi dokter.




Menurut teori medis orang Tibet, dokter dan obat tidak dapat terpisah satu sama lain, faktanya ada beberapa praktisi obat-obatan Tibet saat ini. Dengan tujuan untuk membuat bisnisnya bertahan lama, Lei juga menanam obat-obatan pada lahan sebesar 3000 meter persegi untuk produksinya di masa depan.

Lahir dan besar dalam kemiskinan di propinsi Gansu di barat laut Cina, Lei mengatakan ingatan mengenai kemiskinan selalu berada dalam ingatannya. Ia selalu menghabiskan makanannya dan menyarankan kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama. Baginya membuang makanan adalah sebuah kejahatan.


Lei mengatakan hal yang paling membahagiakannya adalah pada saat berdoa di kuil Budha di Tibet. Ia juga merencanakan untuk bekerja kurang dari setahun lagi dan menyerahkan manajemen perusahaannya kepada orang-orang muda yang ada di sekelilingnya.


Saya akan memiliki waktu untuk berdoa lebih banyak lagi setelah saya pensiun,  ucapnya.


Sumber
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar