Alasan Saya Jadi Pengusaha


Dulu, saya sebel banget sama tukang nasi goreng di komplek perumahan saya. Kita sebut saja namanya Abang X.

Gimana nggak kesel?

Masak jualan nasi, telor, cabe-bawang, dan ayam seupil aja harganya 12.000 (mulai kelihatan deh pelitnya).

Padahal kalo saya bikin sendiri di rumah, modalnya paling separo harga. Ini perhitungannya dulu sebelum BBM naik; Nasi 2000, telor 1500, bumbu 1000, minyak-gas-kerupuk 500 dan ayam seiprit 1000. Total 6000.

Itu berati dia ambil untung 2 x lipat!

Tapi saya terpaksa beli juga, soalnya kalo malam lapar dan dirumah gak ada makanan, saya gak bisa masak sendiri. (Kalo dipaksain, hasilnya paling nasi goreng hambar, nasi goreng keasianan atau nasi goreng gosong).

Sementara Nasi Goreng Abang X ini enak Buaaaangeet!

Sekali nyoba, saya sekeluarga langsung ketagihan dan jadi langganan.

Dan sekalipun saya tidak beli, para warga yang lain juga biasanya pada ngantri. Kehilangan satu pelanggan pelit seperti saya bukanlah masalah bagi abang X.

Nah, dalam satu hari, biasa buka menjelang magrib sampai jam 9/10 an, Abang X bisa jual kurang lebih 50 bungkus Nasi goreng menurut perkiraan saya. Ada yang makan langsung disitu, ada juga yang dibawa pulang. Itu artinya Abang X kerja 4 atau 5 jam sehari bisa dapat untung 6000 x 50 = 300 ribu. Atau penghasilannya perbulan 300 ribu x 30 hari = 9 Juta!

Serius!

Seorang tukang nasi goreng yang mungkin cuma lulusan SD, skillnya cuma oseng-oseng nasi, modal gerobak butut yang mangkal didepan rumahnya, kerja cuma 4 jam perhari bisa punya gaji 9 juta/ bulan. Itu belum termasuk kalo di menerima pesanan nasgor dalam jumlah besar buat acara-acara.

Sementara saya dulu kerja jadi pegawai di salah satu provider telekomunikasi besar, punya kantor gedung bertingkat yang keren, harus pakai blazer/ baju kerja formal, kerja rodi dari jam 8 pagi sampai 5 sore, kejebak macet sampai nyaris pingsan gelantungan di busway, job description; menghandle komplain costumer di malaysia sana yang jaringan teleponnya bermasalah, ngomong bahasa Inggris tiap hari via telepon sampai sakit kepala gara-gara harus pakai headphone terus, melakukan troubleshooting jaringan, menguasai sistem komputer yang rumit, kecepatan mengetik harus kilat, mata kering terus-terusan didepan monitor, menulis dan mengirim puluhan laporan kasus telephone error berbahasa Inggris ke teknisi.

Tebak berapa gaji saya? Tidak lebih dari 3 juta!                          
Ternyata status penghasilan saya 3 x lipat lebih rendah daripada seorang tukang nasi goreng!
Bukan itu saja, dari pagi sampai siang, Abang X bisa bebas jalan-jalan ke kebun binatang lihat monyet bersama keluarganya. Sementara saya terjebak didalam kubikel kantor, duduk terus hingga terancam ambeyen, merasa seperti monyet beneran karena harus menurut saja apa yang disuruh majikan selama saya dikasih pisang (Gaji bulanan).

Lalu apa solusinya?

berhenti kerja dan alih profesi jadi tukang nasi goreng profesional?

Tentu saja tidak. Saya tahu diri. Saya takut orang-orang yang makan nasi goreng bikinan saya muntah-muntah dan masuk rumah sakit.

Akhirnya, saya Resign dari tempat kerja dan mulai merintis usaha Jual-beli-sewa properti bersama keluarga. Sekarang Ruko perkantoran yang saya kelola ada di Jl. Cililitan kecil No. 15. Jaktim. Tidak jauh dari PGC.

Lalu pelajaran apa yang sedang saya ingin sampaikan buat kamu?

Tidak banyak.

Saya hanya ingin memberi kamu contoh riil yang benar-benar ada di dunia nyata tentang betapa kontrasnya perbedaan hidup orang yang memilih jadi karyawan, dengan orang yang memilih hidup sebagai Enterpreneur. Bahkan Enterpreneur kelas teri sekalipun.

Tentu saja bukan berarti jadi pengusaha itu serba enak, serba gampang tanpa resiko. Sebelum Mr. X berhasil menemukan kombinasi resep yang cocok, dia pasti harus belajar dan gagal puluhan kali dulu. Mungkin juga dia dulu pernah memilih lokasi yang salah. sepi/ banyak saingan hingga sudah hutang kemana-mana untuk beli grobak dan perlengkapan dagang, tapi malah bangkrut.

Ada juga kemungkinan dimasa depan muncul tukang nasi goreng lain di komplek perumahan saya yang sama enaknya dengan harga cuma 8000 hingga saya dan costumer lainpun lari meninggalkannya merana bersama kucing peliharaannya.

Saya sendiri pernah ditipu client sampai rugi jutaan. Padahal sudah capek-capek kerja mulai dari memasarkan, mengurus surat-surat kontrak, bolak-balik menagih pembayaran kayak Debt collector,  bahkan jadi separo mandor bangunan (no comment lah) hasilnya malah ZONK!

Tapi seorang pengusaha selalu bisa bangkit lagi dari permasalahan-permasalahan itu. Enterpreneur harus punya pikiran kreatif, mental baja dan optimisme yang berbeda dengan seorang karyawan. Karena mereka tahu, usaha dan resiko biasanya berbanding lurus sama keuntungannya.

Kalo enterpreneur kelas teri macam Abang X saja bisa dapat 9 jt perbulan dari satu usaha. Gimana kalo dia buka 10 cabang lain? Sewa aja pegawai anak putus sekolah yang mau digaji 1 juta perbulan untuk kerja malam doang. Itu berarti dari 10 cabang dia bisa punya penghasilan 80 juta/ bulan.

Dan kawan-kawan, karyawan mana di negeri ini yang bisa dapat gaji segitu?

Sumber 
Share on Google Plus

About Unknown

0 komentar:

Posting Komentar